GAYO LUES - Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Gayo Lues, . Sebanyak sepuluh titik lampu penerangan jalan tenaga surya kini berdiri di berbagai sudut desa, menghadirkan cahaya yang selama ini menjadi impian warga yang tinggal di kaki Gunung Leuser.
Pemasangan lampu tenaga surya ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) yang tergabung dalam program USK Mengabdi 2026 dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, sebagai wujud nyata pengabdian dan sinergi lintas sektor dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana banjir bandang November 2025. Sepuluh lampu tenaga surya yang terpasang secara strategis di titik-titik penting Desa Agusen ini hadir untuk menjawab kebutuhan mendasar warga akan penerangan di malam hari. Program yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala melalui Kementerian Sosial Masyarakat (Sosma) ini tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menghadirkan rasa aman yang selama ini hilang dari kehidupan warga.
Berdasarkan data pemasangan yang dilakukan tim USK Mengabdi, sepuluh lampu ditempatkan di lokasi-lokasi yang dianggap paling membutuhkan penerangan. Lampu pertama dipasang di jalan masuk desa agusen dengan koordinat 97°23'43.70"E dan 3°54'21.85"N, menjadi pusat kendali kegiatan yang kini bercahaya di malam hari. Lampu kedua dan ketiga dipasang di sepanjang jalur menuju Jembatan Dusun Toa, tepatnya di koordinat 97°23'41.74"E, 3°54'19.31"N dan 97°23'41.77"E, 3°54'15.65"N, berfungsi sebagai penerangan penghubung antar dusun yang selama ini menjadi sesuatu yang menakutkan bagi warga yang harus melintas di malam hari. Di jalur menuju Huntara, tempat tinggal sementara bagi warga terdampak banjir, tim memasang tiga lampu sekaligus.
Lampu keempat di simpang jalan menuju Huntara dengan koordinat 97°23'37.94"E, 3°54'25.33"N, lampu kelima di tengah tanjakan pada koordinat 97°23'40.00"E, 3°54'25.30"N, dan lampu keenam di atas tanjakan dengan koordinat 97°23'41.63"E, 3°54'25.55"N. Ketiga titik ini juga berfungsi sebagai penerangan menuju titik kumpul evakuasi yang telah ditentukan, sehingga warga dapat lebih aman saat harus mengungsi di malam hari. Lampu ketujuh dipasang di titik kumpul evakuasi Huntara dengan koordinat 97°23'43.36"E, 3°54'28.70"N, memastikan area pengungsian memiliki penerangan yang memadai. Lampu kedelapan dipasang di jalan menuju Dayah Darul Zikra pada koordinat 97°23'29.22"E, 3°54'27.79"N, memberikan penerangan bagi santri dan warga yang beraktivitas di malam hari. Lampu kesembilan menjadi penerangan di tempat pemantauan debit air sungai pada koordinat 97°23'10.27"E, 3°54'24.06"N, yang sangat penting untuk mitigasi bencana banjir. Sementara lampu kesepuluh dipasang di wilayah ekowisata Agusen pada koordinat 97°23'3.76"E, 3°54'19.51"N, mendukung pengembangan potensi wisata desa yang selama ini terhambat karena minimnya penerangan.
Pemasangan lampu tenaga surya ini tidak terlepas dari dukungan Dinas ESDM Aceh yang turut berkontribusi dalam menyediakan lampu penerangan jalan umum tenaga surya, menunjukkan bahwa sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi oleh desa-desa terpencil. Andi Gerhan, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala yang bertindak sebagai penanggung jawab pemasangan lampu, menyampaikan harapan besarnya bagi masyarakat Desa Agusen. "Semoga pemasangan lampu panel surya ini menjadi cahaya harapan bagi masyarakat Desa Agusen dalam semangat mengabdi untuk pulih, bergerak untuk bangkit," ujarnya dengan penuh keyakinan. Baginya, setiap lampu yang terpasang adalah simbol bahwa ada tangan-tangan muda yang peduli dan siap bekerja keras untuk mewujudkan perubahan, sekecil apa pun itu. Pengulu Desa Agusen, Ramadhan, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan haru atas inisiatif yang telah dilakukan. "Kami tidak pernah menyangka bahwa desa kecil kami akan mendapatkan perhatian sebesar ini. Lampu-lampu ini bukan hanya menerangi jalan kami, tetapi juga menerangi hati kami. Ini adalah bukti bahwa masih ada orang-orang baik di luar sana yang peduli dengan kehidupan kami. Kami akan menjaga lampu-lampu ini sebagai amanah yang harus dirawat untuk anak cucu kami," ujarnya dengan suara bergetar. Seorang warga Dusun Toa, Ama, mengungkapkan betapa berarti kehadiran lampu ini bagi kehidupannya. "Dulu setiap kali saya harus pulang larut malam dari kebun, saya selalu takut. Jalanan gelap, saya khawatir terpeleset atau jatuh ke jurang. Sekarang dengan adanya lampu, saya bisa melangkah dengan lebih tenang. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan," ujarnya.
Pemilihan lampu tenaga surya sebagai solusi penerangan bukan tanpa alasan, karena selain tidak memerlukan jaringan listrik yang mahal dan rumit, lampu tenaga surya juga ramah lingkungan dan berkelanjutan. Desa Agusen yang terletak di daerah terpencil dengan akses listrik terbatas sangat membutuhkan solusi penerangan yang mandiri dan tidak bergantung pada infrastruktur yang belum memadai. Dengan memanfaatkan energi matahari yang melimpah di wilayah Gayo Lues, lampu-lampu ini dapat beroperasi secara mandiri tanpa biaya operasional yang memberatkan masyarakat. Pemasangan lampu tenaga surya ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memulihkan Desa Agusen pascabencana, di mana sebelumnya tim USK Mengabdi juga telah memasang peta mitigasi dan jalur evakuasi di enam titik rawan bencana, memulihkan jaringan pipa air bersih sepanjang 3,7 kilometer, menggelar kegiatan Medical Check Up gratis, serta menjalankan program Sahabat Lansia yang menyentuh kelompok rentan.
Dengan terpasangnya sepuluh lampu tenaga surya ini, diharapkan masyarakat Desa Agusen dapat merasakan manfaat yang berkelanjutan. Penerangan yang memadai di malam hari tidak hanya meningkatkan rasa aman, tetapi juga membuka peluang bagi kegiatan ekonomi dan sosial yang selama ini terbatas akibat gelapnya malam. Para mahasiswa juga berharap pemerintah daerah dapat terus mendukung inisiatif-inisiatif serupa, sehingga desa-desa lain yang masih kekurangan penerangan juga dapat merasakan manfaat teknologi tenaga surya.
Program ini menjadi inspirasi bahwa mahasiswa tidak hanya bisa belajar di dalam kampus, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang nyata di tengah masyarakat. Semangat "Mengabdi untuk Pulih, Bergerak untuk Bangkit" benar-benar terwujud dalam setiap langkah, setiap tetes keringat, dan setiap cahaya yang kini menyinari Desa Agusen. Cahaya sepuluh lampu yang kini menerangi malam di Desa Agusen adalah bukti bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu mampu mengusir kegelapan.
Di setiap sudut desa yang kini terang benderang, tersimpan cerita tentang kepedulian, kerja sama, dan harapan yang tidak pernah padam. Desa Agusen mungkin kecil dalam peta, tetapi dalam perjalanan pengabdian ini, ia telah menjadi saksi bahwa di balik setiap bencana, selalu ada tangan-tangan muda yang siap membangun kembali, menyalakan kembali, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Social Footer