Banda Aceh – Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) asal Pidie, Muhajirin, mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Pidie bersama Majelis Ulama Nanggroe (MUNA) Wilayah Pidie dalam mengawal pelaksanaan Gerakan Pembelajaran Al-Qur'an Satu Hari Satu Ayat melalui kegiatan monitoring dan evaluasi di 274 sekolah.
Menurut Muhajirin, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan program yang telah dijalankan benar-benar memberikan dampak terhadap pembentukan karakter peserta didik.
"Program yang baik tidak cukup hanya diluncurkan, tetapi juga harus dipastikan berjalan secara konsisten. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan menjadi bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Pidie bersama MUNA memiliki komitmen kuat dalam menjaga kualitas pelaksanaan program ini," kata Muhajirin, Selasa (30/6/2026).
Ia menyampaikan apresiasi kepada Bupati Pidie yang dinilainya telah memberikan perhatian terhadap penguatan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman.
"Di tengah tantangan perkembangan zaman, kebijakan yang memperkuat pendidikan karakter seperti ini patut diapresiasi. Saya melihat Bupati Pidie menunjukkan komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan akhlak generasi muda," ujarnya.
Muhajirin juga mengapresiasi MUNA Wilayah Pidie yang turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan implementasi Gerakan Satu Hari Satu Ayat berjalan sebagaimana mestinya.
Menurutnya, pengawasan yang dilakukan merupakan bagian penting agar sebuah program tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi budaya yang tumbuh di lingkungan pendidikan.
"Langkah MUNA sangat positif. Kehadiran mereka di sekolah bukan sekadar melakukan evaluasi, tetapi juga menjadi bentuk pendampingan agar tujuan program benar-benar tercapai," katanya.
Ia menilai pembiasaan membaca dan mempelajari Al-Qur'an setiap hari merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.
Muhajirin berharap program tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah kabupaten/kota lainnya di Aceh untuk menghadirkan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter.
"Kolaborasi antara pemerintah daerah, ulama, tenaga pendidik, dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun generasi Aceh yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Saya berharap praktik baik yang dilakukan di Kabupaten Pidie dapat direplikasi di daerah lain," tutupnya.
Social Footer